Makna Hidup di dalam Kristus: Prinsip Ciptaan Baru (2Kor. 5:11-21)

Pendahuluan
Hidup di dalam Kristus menjadi bagian penting yang harus digumuli oleh seseorang atau setiap orang. Sebab hidup diluar Kristus pasti menerima kebinasaan kekal. Seseorang yang hidup diluar Kristus memiliki kecenderungan berusaha untuk memuji-muji dirinya sendiri bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, tidak mengendalikan diri dengan baik, hidup untuk dirinya sendiri, menilai orang lain menurut ukuran manusia, kesombongan, keangkuhan, dan sebagainya. Beberapa karakteristik ini disebut dengan hidup yang lama atau manusia lama. Matthew Henry menuliskan bahwa hidup diluar Kristus berarti hidup keterasingan dari Allah dalam Yesus Kristus, memiliki kebencian dan keengganan untuk hidup dalam kekudusan, kemurnian, kebenaran, dan kebaikan.
Hidup diluar Kristus senada dengan Hidup yang lama atau manusia lama. Manusia lama artinya manusia yang mempunyai kecenderungan untuk hidup terus-menerus melakukan perbuatan dosa. Semakin memiliki loyalitas dalam berbuat dosa, maka akan semakin hidup menjauh dari Tuhan sehingga puncak dari kehidupannya di dalam dunia ini ialah menerima kebinasaan atau kematian kekal. Sebab itu, rujukan yang paling baik bagi manusia ciptaan Tuhan ialah hidup di dalam Kristus. Seseorang atau setiap orang yang hidup di dalam Kristus memiliki kecenderungan melalui pertolongan Roh Kudus, sehingga hidupnya akan memiliki rasa takut akan Tuhan, tidak berusaha untuk memuji-muji dirinya sendiri, selalu menguasai diri, hidupnya untuk Yesus Kristus, menilai orang dengan standar Firman Tuhan, hidup dalam kebenaran Tuhan, hidup berdamai dengan Tuhan, hidup berdamai dengan dirinya sendiri, hidup berdamai dengan sesama manusia, dan sebagainya. Karakteristik yang demikian ini disebut sebagai manusia ciptaan baru atau manusia hidup baru. Manusia hidup baru berarti manusia yang mempunyai kecenderungan untuk terus-menerus hidup benar di dalam Yesus Kristus tanpa berkompromi dengan dosa.

Hidup di dalam Kristus: Prinsip Ciptaan Baru
Bahwasanya seseorang atau setiap orang yang hidup di dalam Kristus sebagai langkah awal dari prinsip ciptaan baru. Prinsip ciptaan baru akan terwujud dengan baik apabila seseorang atau setiap orang berani untuk mengambil keputusan hidup dalam menolak semua perkara yang bertentangan dengan prinsip kebenaran Firman Tuhan. Teks 2Korintus 5:17 dipilih dan dijadikan sebagai titik fokus untuk memahami ayat 11-21 di dalam 2Korintus 5.

Makna Hidup di dalam Kristus
Verba ”Jadi siapa yang ada di dalam Kristus,” dari verba ώστε εί τις έν χριστό (hOste ei tis en christO), yang artinya sebab itu jika ada orang di dalam Kristus (Hasan Sutanto 2014a:971). Dalam terjemahan Yunani tidak dapat ditemukan kata ’Jadi.’ Kata yang ditemukan dalam terjemahan Yunani ialah kata ώστε (hOste). Kata ώστε (hOste) artinya karena/ sebab itu, sehingga, untuk (Hasan Sutanto 2014b:781). Kata εί (ei) artinya jika, karena, bahwa, apakah, umpamanya (Hasan Sutanto 2014b:227). Kata ’jika’ dalam terjemahan LAI tidak dapat ditemukan, namun kata jika ditemukan dalam teks Yunani εί (ei) yang menerangkan suatu kondisi mengenai seseorang yang ada di dalam Kristus.
Kata ’siapa,’ dari kata τις (tis) menggunakan jenis maskulin kategori jumlah singularis kasus nominatif yang artinya seseorang, setiap orang, beberapa orang, orang tertentu, seorang penting, sesuatu, beberapa, tertentu, ada, suatu jenis, sedikit, sebentar (Hasan Sutanto 2014b:711). Jadi, kata τις (tis) merujuk pada orang bukan pada benda atau barang karena itu kata τις (tis) dalam teks 2Korintus 5:17 berarti ada seseorang (anyone) (Anon 2010). Kata έν (en) berarti di, di dalam, ke dalam, pada, dekat, untuk, dengan, bersama, terdiri, dari, dalam jumlah, maka, dalam kurun waktu, oleh, di depan, di antara, kepada, ketika, sementara, selama, karena, melalui, di mana, demi, atas (nama) (Hasan Sutanto 2014b:259). Dalam teks 2Korintus 5:17 kata έν (en) berarti di dalam. Jadi, έν (en) χριστό (KhristO) artinya di dalam Kristus.
Nama χριστό (KhristO) artinya Kristus, Mesias. Nama Kristus, Mesias berarti Dia yang telah diurapi. Nama Kristus merupakan terjemahan bahasa Yunani untuk nama Mesias di bahasa Ibrani dan Aram. Kristus adalah nama diri Tuhan Yesus, sedangkan Mesias ialah sebutan kehormatan (Hasan Sutanto 2014b:768).
Berdasarkan pemahaman studi kata dari verba Yunani: sebab itu jika seseorang di dalam Kristus, maka dapat dimaknai bahwa seseorang jika hidup di dalam Kristus berarti seseorang yang tidak lagi menuruti keinginan daging yang menuntun ke dalam kebinasaan kekal, namun hidup baru di dalam tuntunan Roh Kudus setiap hari sebagai jawaban atas keselamatan yang telah Allah anugerahkan melalui pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib di bukit Kalvari. Saat seseorang melakukan Firman Tuhan berarti memiliki karakteristik yang benar bahwa dirinya telah menerima Kristus atau hidup di dalam Kristus Yesus.
Rasul Paulus menyebut Kristus membentuk kesatuan dengan mereka yang baginya Kristus Yesus datang ke dalam dunia, sehingga seseorang atau setiap orang bisa berada “di dalam Kristus” (2Kor. 5:17). Jadi, karena kita “di dalam Kristus,” maka semua perkara yang terjadi “di dalam Kristus” dapat diimplementasikan juga kepada kita. Konsep “di dalam Kristus” menunjukkan pengimplementasian, baik semua perkara yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi di dalam Kristus kepada umat-Nya. Rasul Paulus sering kali berbicara tentang disalibkan, mati, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Kristus (Rm. 6:3; Gal. 2:19; Kol. 2:12-13, 20; 3:1, 3), tentang Kristus telah memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di Surga (Ef. 2:6), dan tentang kita akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan (Kol. 3:4) (Jordan 2021).

Prinsip Ciptaan Baru
Prinsip ciptaan baru merupakan suatu prinsip hidup yang berbeda dengan prinsip hidup yang lama. Ciptaan baru merupakan kemampuan pemikiran, perasaan, dan ketulusan hati untuk mengembangkan sesuatu yang baru berdasarkan Firman-Nya dan berani untuk menjauhkan diri dari kehidupan lama yang berlawanan dengan Firman-Nya. Dalam teks 2Korintus 5:11-21 ada beberapa indikasi prinsip ciptaan baru yang harus dimiliki oleh seseorang atau setiap orang yang berada di dalam Kristus yakni:
Pertama, Takut akan Tuhan (ay. 11-12). Takut akan Tuhan dari frasa phobon tou kuriou yang artinya hal yang menakutkan dari Tuhan atau rasa takut dari Tuhan atau rasa takut kepada Tuhan (Hasan Sutanto 2014a:970). Takut akan Tuhan merujuk kepada rasa takut atau perasaan hormat, kagum, dan pasrah untuk kebergantungan sepenuhnya kepada Tuhan. Teks 2Korintus 5:11 secara harfiah dapat dijelaskan bahwa karena tahu rasa takut kepada Tuhan, maka kami berusaha meyakinkan orang-orang di depan Allah dan kami telah dinyatakan, aku harap dan juga di dalam hati nurani kamu telah dinyatakan. Teks ini dapat dipahami bahwa: (1) takut akan Tuhan, takut dan hormat yang muncul bila berpikir mengenai memberi tanggung jawab kepada Tuhan yaitu Yesus Kristus (ay. 10) di depan meja pengadilan-Nya; (2) rasul Paulus berupaya meyakinkan orang-orang Kristen akan kesejatian rasul Paulus sebagai pengikut Kristus dan rasul Yesus Kristus (Guthrie 1999:528).
Teks 2Korintus 5:11 menurut Henry bahwa kebanaran Tuhan menjadikan rasul Paulus takut kepada Tuhan melalui penyataan Firman-Nya di dalam dirinya, sehingga suatu harapan besar dari rasul Paulus supaya umat Tuhan di Korintus juga Firman Allah dinyatakan di dalam hati nuraninya (Matthw Henry 2015:885–86) agar bertobat dan memiliki rasa takut kepada Tuhan. Rasa takut kepada Allah dalam Yesus Kristus yang dimiliki oleh rasul Paulus, sehingga mampu berusaha meyakinkan orang-orang Kristen di Korintus untuk takut kepada Tuhan (ay. 11) dan tidak memuji-muji diri sendiri (ay. 12; 2Kor. 3:1). Tidak memuji-memuji diri sendiri, tetapi justru memberi kesempatan kepada orang-orang Kristen di Korintus untuk memperlengkapi dengan bahan-bahan yang dapat dipakai untuk menentang para penentang rasul Paulus (Guthrie 1999:528).
Demikian pula dengan kehidupan para pelayan Yesus Kristus pada masa kini yang memiliki rasa hormat kepada Tuhan, sehingga mampu menyakinkan orang-orang lain supaya memiliki rasa takut juga kepada Tuhan dan tidak memuji-muji dirinya sendiri (ay. 12), tetapi justru memberi kesempatan kepada orang Kristen untuk bermegah terhadap para pelayan Yesus Kristus yang telah setia melayani spiritual umat-Nya bukan kebutuhan jasmaniah yang sifatnya sementara belaka.
Kedua, Menguasai diri (ay. 13-16). Menguasai diri (TB LAI), σωΦρονούμεν (sOphronoumen) (Terj. Yunani) menggunakan verb indicative present active 1 plural yang berarti pikiran kami menjadi waras (Hasan Sutanto 2014a:970). Oleh karena kata σωΦρονούμεν (sOphronoumen) menggunakan waktu sekarang (present), maka dapat diartikan bahwa pikiran kami saat ini secara terus-menerus menjadi waras. Kata σωΦρονούμεν (sOphronoumen) dari kata σωΦρονέω (sophroneo) berarti pikiran menjadi waras, berpikiran sehat (Hasan Sutanto 2014b:698). Jadi, menguasai diri (TB LAI) berarti: (1) kemampuan untuk menahan, mengekang, dan menjaga diri sendiri dari dosa supaya tidak diperbudak oleh dosa; (2) kemampuan untuk mengendalikan pikiran, kebiasaan yang buruk yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Kata σωΦρονούμεν (sOphronoumen) berarti kemampuan setiap orang (pelayan Yesus Kristus) dalam menggunakan pikiran yang sehat secara terus-menerus pada waktu sekarang untuk melayani orang lain. Henry menuliskan bahwa demi kemuliaan Allah dan kebaikan umat Tuhan, maka rasul Paulus bersemangat dalam pelayanan seperti ungkapan: ”Mengendalikan diri atau tidak mengendalikan diri semuanya dapat dilakukan dalam pelayanan Allah untuk kepentingan atau kebaikan umat Kristen di Korintus (ay. 13). Apabila pada suatu saat ada orang yang memiliki gairah yang berkobar-kobar dalam pelayanan yang bertujuan untuk memuliakan nama Tuhan (Matthw Henry 2015:886).
Ketika mengendalikan diri atau tidak mengendalikan diri menjadi alasan yang terbaik untuk kepentingan orang lain sebab Kristus menguasai para pelayan Yesus Kristus (ay. 14). Kasih Kristus menguasai para pelayan Yesus Kristus dan para pengikut Yesus Kristus untuk menjalankan kewajiban. Kasih seseorang atau setiap orang kepada Kristus dan kasih Kristus kepada seseorang atau setiap orang melalui tindakan-Nya yang besar untuk dicamkan dan diimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kasih Allah kepada semua orang sungguh menakjubkan, sehingga merelakan Yesus Kristus mati untuk orang banyak supaya orang banyak tidak mengalami kesengsaraan selama-lamanya di dalam api kekal. Agar tidak mengalami kematian kekal di kelak kemudian, maka semua orang harus secepatnya untuk bertobat, percaya, menerima, dan beriman kepada Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
Tuhan Yesus dikurbankan oleh Allah kepada umat manusia sebab itu bagi umat manusia yang telah percaya kepada-Nya dan yang telah mengalami serta merasakan kebaikan-Nya dalam kehidupannya harus hidup untuk Dia (ay. 15). Allah telah merencanakan untuk kepentingan semua orang melalui kematian Yesus Kristus agar menghidupkan semua orang dan supaya semua orang tidak hidup untuk dirinya sendiri. Salah satu tujuan Yesus Kristus mengalami kematian secara fisik ialah untuk menyembuhkan jiwa raga semua orang. Orang-orang yang telah menjadi pengikut Kristus harus mengabdikan diri kepada Yesus Kristus dan menjadi saksi bagi orang lain untuk memperoleh keselamatan kekal.
Pada prinsipnya bahwa setiap orang yang sudah mengalami perubahan hidup dan serius untuk percaya kepada Yesus Kristus, maka akan selalu menilai orang lain dengan ukuran Kristus sesuai patokan Firman-Nya (ay. 16). Menilai orang lain dengan ukuran manusia akan bertentangan dengan pikiran Kristus yang tertulis dalam Firman-Nya sebab Tuhan selalu melihat hati manusia bukan melihat hidup secara lahiriah belaka. Teks 2Korintus 5:17 menjadi ayat kunci untuk menilai orang lain. Henry menuliskan bahwa perubahan hati yang menyeluruh sangat diperioritaskan sebab umat manusia yang memiliki iman di dalam Yesus Kristus harus hidup dalam tranformasi, bukan untuk mengubah nama baru, bukan untuk menggunakan pakaian baru, melainkan mempunyai hati dan sifat-sifat yang baru. Semua perkara yang lama sudah berlalu yakni pikiran-pikiran lama, asas-asas hidup yang lama, dan kebiasaan-kebiasaan hidup yang lama (Matthw Henry 2015:888).
Ketiga, Mempercayakan pelayanan pendamaian (ay. 18-21). Allah telah menentukan Yesus Kristus sebagai pembawa damai. Allah telah mendamaikan umat manusia dengan diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus (ay. 18). Yesus Kristus ditentukan oleh Allah untuk mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri dan menjadikan diri-Nya benar-benar bisa didamaikan dengan para pelanggar tanpa menyalahi atau melanggar keadilan dan kekudusan-Nya.
Pelayanan pendamaian yang dijalankan oleh Yesus Kristus ialah melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib sebagai bukti pendamaian telah terlaksana, sehingga dapat memandu para pelayan-Nya untuk melayani Dia. Pada zaman PB rasul Paulus dan para pelayan Yesus Kristus yang lain telah mewartakan berita pendamaian kepada umat manusia supaya hidup berdamai dengan Allah. Demikian pula, pada zaman anugerah ini, para pelayan Yesus Kristus harus menawarkan dan memberitakan berita perdamaian kepada umat manusia supaya bisa hidup berdamai dengan Allah dalam Yesus Kristus, berdamai dengan diri sendiri, dan berdamai dengan sesama manusia.
Dalam teks 2Korintus 5:18-19 Guthrie menuliskan bahwa pelayanan pendamaian merupakan pemberitaan Kabar Baik bahwa dengan harga yang tidak terhingga Allah telah menyisihkan murka-Nya sebab Yesus Kristus yang dikasihi-Nya sudah memikul-Nya di salib. Damai yang tidak ternilai yang diperoleh karenanya, sekarang dengan cuma-cuma ditawarkan kepada umat manusia. Pendamaian itu terlaksana secara sempurna melalui Yesus Kristus (Guthrie 1999:529).
Dalam teks 2Korintus 5:20 menurut Calvin dalam Guthrie bahwa para duta Kristus bersedia merendahkan diri untuk minta dengan sangat, hal itu merupakan pujian yang tidak ada bandingannya mengenai kasih karunia Kristus. Rasul Paulus memberitakan Kabar Baik dalam semangat Injil (Guthrie 1999:529). Berilah dirimu didamaikan dengan Allah dimaknai bahwa setiap orang haruslah menerima pendamaian yang telah diadakan oleh Allah melalui penyaliban-Nya (Rm. 5:11).
Dalam teks 2Korintus 5:21 dapat dijelaskan bahwa Yesus Kristus tidak mengenal dosa dan tidak berbuat dosa (bdk. 1Ptr. 2:22), sehingga ditentukan oleh Allah sebagai Penyelamat umat manusia yang berdosa. Yesus Kristus telah memerdekakan manusia dari belenggu dosa. Tindakan dan rencana kekal dari Allah melalui Yesus Kristus untuk membenarkan dan menebus umat manusia berdosa (Matthw Henry 2015:891).

Kesimpulan
Takut akan Tuhan dapat menimbulkan penguasaan diri sehingga memahami kehendak Tuhan melalui firman-Nya dan dipercayakan Tuhan untuk menjalankan misi pelayanan pendamaian karena manusia harus hidup berdamai dengan Allah, berdamai dengan dirinya sendiri, dan berdamai dengan sesama manusia termasuk orang-orang yang menjadikan Tuhan dan manusia sebagai musuh karena itu harus hidup berdamai. Satu-satunya musuh Tuhan dan musuh manusia yang tidak diperkenankan untuk berdamai dengan dia ialah Iblis dan kroni-kroninya.

Penulis: Marthen Mau Editor: BU IM

Respon (10)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *